Ucapan Selamat
Ketua Seuramo Aceh Barat Priode 2010 - 2015, Bachtiar Haris, mendapat ucapan selamat dari mantan ketua Seuramo Aceh Barat, Said Zulkarnain, SE
Semoga Sukses dan Berjaya
Ketua Seuramo Aceh Barat Priode 2010 - 2015, Bachtiar Haris, mendapat ucapan selamat dari Ketua Pengurus Taman Iskandar Muda, Safli Didoh
Aceh Barat Perantau Bersatu
Ucapan selamat kepada ketua Seuramo Aceh Barat Priode 2010 - 2015, Bachtiar Haris, dari salah seorang Dewan Penasehat , Hj. Cut Keumala Sari. S setelah dilantik dan peusijuk tanggal 17 Oktober 2010, di Bekasi
Rabu, 01 Oktober 2014
5 Tempat Wisata Terindah Di Aceh Barat (Meulaboh)
Rabu, Oktober 01, 2014
Seuramoe Aceh Barat
Sungguh ini panorama pemandangan di daerah lhoksemawe. ini dia 5 tempat wisata terindah di Aceh barat versi blogger anak aceh.
1. Pantai Lhok Bubon
Objek Wisata Pantai Lhok Bubon berada di Kabupaten Aceh Barat
yang berlokasi di desa Bubon,Provinsi Aceh. Jarak tempuh ke Pantai Lhok
Bubon sekitar 8 km dari kota Meulaboh. Pantai Lhok Bubon ini terkenal
sebagai daerah penghasil makanan laut, dan selalu ramai dikunjungi oleh
masyarakat sekitarnya yang datang untuk menikmati segarnya makanan laut
sekaligus menikmati alam pantainya. Selain merupakan tempat tujuan
pariwisata, tempat ini menjadi lahan penambahan ekonomi bagi masyarakat
sekitarnya,
2. Pantai Suak Ribee
Pantai Suak Ribee merupakan salah satu tempat rekreasi yang
terdapat dipesisir kota Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat .Pantai Suak
Ribee banyak di kunjungi oleh berbagai unsur masyarakat baik orang
dewasa, remaja maupun anak-anak. Pantai suak ribee biasanya ramai pada
sore hari maupun pada hari –hari libur. Sebelum bencana tsunami Pantai
suak ribee adalah tempat rekreasi yang sangat indah dan
menarik.Disepanjang jalan di pinggiran pantai berbaris pohon kelapa dan
pohon cemara.disana juga banyak terdapat tempat-tempat untuk
peristerahatan seperti café-café yang berjejer di sepanjang jalan.
Pemandangan di sore hari sangatlah indah selain menikmati semilir angin
yang sepoi-sepoi kita juga dapat melihat pemandangan matahari tenggelam
pada matahari senja.
3. Mesjid Agung Kota melaboh
Masjid Agung Meulaboh Arsitektur bangunan Masjid Agung
Meulaboh sangat indah dengan kubahnya yang berwarna dominan terang
menjadikan masjid ini sangat indah dipandang mata.
Masjid Agung ini merupakan masjid kebanggaan dari Kabupaten Aceh Barat, tepatnya Jl.Imam Bonjol, Kota Meulaboh.
Karena letaknya dipusat kota Meulaboh, dengan mudah dapat dijangkau dengan kendaraan umum ataupun kendaraan roda dua.
Banyak
wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung ke mesjid indah ini datang
untuk beribadah maupun hanya untuk menikmati keindahan arsitektur
mesjid ini.
4. Pantai Cemara
Pantai Cemara Indah Selain pasir pantainya putih yang indah,
disini juga tersedia Taman Rekreasi, yang merupakan salah satu objek
wisata rekreasi keluarga. Pantai Cemara Indah ramai di kunjungi tidak
hanya dari masyarakat Kabupaten Aceh Barat Daya saja, tetapi juga dari
luar daerah, terutama di hari-hari libur dan akhir pekan. Lokasi wisata
ini sedang dalam tahap pembangunan yang nantinya akan menjadi objek
wisata yang terus berkembang. Fasilitas yang tersedia saat ini adalah
warung makan, balai tempat berteduh, bangku taman, tempat permainan
anak, lapangan olah raga dan musholla. Di samping itu pelayanan sarana
air bersih, listrik,dan telepon juga tersedia di lokasi wisata ini.
5. Pantai batee Puteh
Objek Wisata Pantai Batee Puteh yang indah ini terletak di
kabupaten Aceh Barat. Lokasi Pantai Batee Puteh kira-kira 3 km dari kota
Meulaboh. Pantai Batee Puteh ini sangat ramai dikunjungi oleh
masyarakat pada saat liburan untuk berenang atau hanya sekedar menikmati
keindahan pemandangannya. Merupakan tempat liburan yang cocok bagi
keluarga, selain itu pantainya yang putih dan bersih menambah daya tarik
kawasan wisata ini.
Senin, 08 April 2013
Pengamat: Aceh Tak Ingin Tenggelam Bersama Indonesia
Senin, April 08, 2013
Seuramoe Aceh Barat
JAKARTA - Disahkanya bendera bulan bintang menjadi
bendera Aceh menunjukan bahwa pada dasarnya masyarakat Aceh masih
menginginkan kemerdekaan atau melepaskan diri dari Indonesia.
Demikian yang dikatakan pengamat politik Aceh, Al Chaidar, saat berbincang dengan Okezone, Minggu (7/4/2013). "Memang keinginan Aceh untuk merdeka masih besar," kata Chaidar.
Demikian yang dikatakan pengamat politik Aceh, Al Chaidar, saat berbincang dengan Okezone, Minggu (7/4/2013). "Memang keinginan Aceh untuk merdeka masih besar," kata Chaidar.
Abdullah Saleh: Banjir Aceh Barat karena endapan di hulu sungai
Senin, April 08, 2013
Seuramoe Aceh Barat
ANGGOTA Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dari daerah pemilihan Aceh Barat,
Abdullah Saleh, menyebutkan ada beberapa penyebab terjadinya banjir di
Aceh Barat.
Kata dia, selain pengaruh tingginya curah hujan, banjir di Aceh Barat
disebabkan endapan lumpur dan kotoran sampah di hulu sungai. Wilayah
endapan yang dulunya masih baik, kata dia, sekitar tahun 1980-an mulai
terganggu.
"Aktifnya hutan-hutan produksi dan diikuti dengan perkebunan yang
memilki HGU (Hak Guna Usaha) ini juga mempengaruhi wilayah endapan di
hulu sungai. Sehingga membuat sungai semakin dangkal dan meluap," ujar
Anggota Fraksi Partai Aceh, Sabtu
malam, 6 April 2013.
Atas musibah banjir di Aceh Barat, Abdullah Saleh berharap Pemerintah
Aceh Barat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Taruna Siaga Bencana
untuk segera melakukan masa tanggap darurat.
"Masa tanggap darurat perlu diperhatikan sungguh-sungguh. Perlu
dilakukan langkah-langkah komprehensif dalam rangka menangani masalah
tersebut. Pemerintah Daerah, BPBD dan Tagana juga harus betul-betul
memperhatikan masyarakat yang menjadi korban musibah tersebut.
Tanganilah dengan baik," ujarnya. [] (maa)
SUMMBER : http://dpr-aceh.atjehpost.com/read/2013/04/06/46895/31/31/Abdullah-Saleh-Banjir-Aceh-Barat-karena-endapan-di-hulu-sungai#.UWIw0KDixkg
Aksi “Perang” Bendera Landa Aceh
Senin, April 08, 2013
Seuramoe Aceh Barat
Banda Aceh, (Analisa). Peristiwa menarik terjadi
di Provinsi Aceh dalam beberapa hari belakangan ini, menyusul aksi
“perang” bendera melanda sejumlah daerah dalam wilayah provinsi itu.
Di kawasan pesisir pantai timur, utara hingga Kota Banda Aceh,
terjadi aksi pengibaran dan pawai bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
berwarna merah dengan gambar bulan bintang di tengah yang telah
disahkan menjadi bendera Aceh berdasarkan Qanun (Perda) Nomor 3 Tahun
2013 tentang bendera dan lambang Aceh.
Sementara di kawasan Aceh bagian tengah antara lain di Takengon, Aceh Tengah pada Senin (1/4) dan kawasan pesisir pantai barat yaitu Meulaboh, Aceh Barat, pada Minggu (31/3) justru terjadi aksi pengibaran dan pawai bendera merah putih, yang dilakukan warga dan mahasiswa setempat sebagai bentuk protes terhadap disahkannya bendera Aceh oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).
Pengibaran dan pawai bendera Aceh yang dibalas dengan pengibaran serta pawai bendera merah putih, membuat suasana Aceh menjadi panas serta membingungkan masyarakat.
Sementara aparat keamanan baik dari unsur kepolisian maupun TNI, sejauh ini masih membiarkan bahkan ikut mengamankan pengibaran dan pawai bendera bintang bulan sambil menunggu keluarnya hasil klarifikasi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) terhadap qanun bendera Aceh.
Dari Banda Aceh dilaporkan, sekitar 1.000-an massa yang datang dari berbagai daerah pesisir pantai timur Aceh berkonvoi mengarak bendera bulan bintang di ibukota Provinsi Aceh itu, Senin (1/4).
Massa yang menggunakan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat termasuk bus sekolah, tiba di Banda Aceh sejak pagi. Massa berkumpul di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sebelum bergerak keliling kota sambil mengarak bendera Aceh.
Aksi ini sebagai bentuk dukungan terhadap qanun bendera dan lambang Aceh yang telah disahkan DPR Aceh pada 22 Maret 2013 dan diundangkan dalam lembaran daerah oleh Pemprov Aceh pada 25 Maret 2013.
“Kami datang dari daerah untuk mendukung Pemprov Aceh dalam rangka memperjuangkan qanun bendera dan lambang Aceh agar disetujui Pemerintah Indonesia,” ujar Marzuki selaku koordinator konvoi dari wilayah Aceh Timur.
Menurut Marzuki, massa datang atas keinginan sendiri bukan karena adanya mobilisasi umum. Sehari sebelumnya, Wakil Gubernur Muzakir Manaf sudah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan konvoi dan meminta agar masyarakat bersabar menunggu keputusan dari Pemerintah Pusat tentang qanun bendera dan lambang Aceh.
Macet
Konvoi bendera bulan bintang yang melintasi sejumlah ruas jalan protokol itu, sempat memacetkan arus lalu lintas di pusat kota Banda Aceh, seperti Bundaran Simpang Lima, Simpang Surabaya dan Simpang Jambo Tape. Konvoi juga menyedot perhatian warga. Usai berkonvoi, massa berkumpul di depan gedung DPRA dan menaikkan bendera bulan bintang ukuran raksasa di gedung dewan tersebut.
Bendera dinaikkan sekitar delapan orang. Mereka menarik sedikit demi sedikit bendera itu lalu memajangnya di atas atap gedung utama DPRA. Saat bendera dinaikkan, sontak ratusan orang yang hadir bertepuk tangan dan meneriakkan Allahu Akbar. Bendera terlihat menjuntai dari atap hingga menutupi beranda gedung utama DPR Aceh.
Sementara dari Meulaboh, Aceh Barat dilaporkan, puluhan warga memasang bendera merah putih di dalam kota tersebut, Minggu (31/1). Selain itu, warga juga melakukan konvoi keliling kota dengan membawa bendera merah putih.
Aksi pengibaran bendera merah putih ini sempat membuat kemacetan arus lalu lintas di kota Meulaboh selama 20 menit. “Ini bentuk kesadaran dan rasa cinta kami kepada NKRI,” kata Taufik, Koordinator Aksi.
Usai menaikkan bendera merah putih ukuran besar di Simpang Kisaran pada siang hari, puluhan warga Meulaboh kembali mengibarkan bendera itu pada malamnya sekitar pukul 23.00 Wib. Bendera merah putih berukuran 5 x 10 meter dikibarkan di Jembatan Lhun Nakye, Kelurahan Ujung Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan. (mhd/rfl/bei)
Sementara di kawasan Aceh bagian tengah antara lain di Takengon, Aceh Tengah pada Senin (1/4) dan kawasan pesisir pantai barat yaitu Meulaboh, Aceh Barat, pada Minggu (31/3) justru terjadi aksi pengibaran dan pawai bendera merah putih, yang dilakukan warga dan mahasiswa setempat sebagai bentuk protes terhadap disahkannya bendera Aceh oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA).
Pengibaran dan pawai bendera Aceh yang dibalas dengan pengibaran serta pawai bendera merah putih, membuat suasana Aceh menjadi panas serta membingungkan masyarakat.
Sementara aparat keamanan baik dari unsur kepolisian maupun TNI, sejauh ini masih membiarkan bahkan ikut mengamankan pengibaran dan pawai bendera bintang bulan sambil menunggu keluarnya hasil klarifikasi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) terhadap qanun bendera Aceh.
Dari Banda Aceh dilaporkan, sekitar 1.000-an massa yang datang dari berbagai daerah pesisir pantai timur Aceh berkonvoi mengarak bendera bulan bintang di ibukota Provinsi Aceh itu, Senin (1/4).
Massa yang menggunakan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat termasuk bus sekolah, tiba di Banda Aceh sejak pagi. Massa berkumpul di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, sebelum bergerak keliling kota sambil mengarak bendera Aceh.
Aksi ini sebagai bentuk dukungan terhadap qanun bendera dan lambang Aceh yang telah disahkan DPR Aceh pada 22 Maret 2013 dan diundangkan dalam lembaran daerah oleh Pemprov Aceh pada 25 Maret 2013.
“Kami datang dari daerah untuk mendukung Pemprov Aceh dalam rangka memperjuangkan qanun bendera dan lambang Aceh agar disetujui Pemerintah Indonesia,” ujar Marzuki selaku koordinator konvoi dari wilayah Aceh Timur.
Menurut Marzuki, massa datang atas keinginan sendiri bukan karena adanya mobilisasi umum. Sehari sebelumnya, Wakil Gubernur Muzakir Manaf sudah mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan konvoi dan meminta agar masyarakat bersabar menunggu keputusan dari Pemerintah Pusat tentang qanun bendera dan lambang Aceh.
Macet
Konvoi bendera bulan bintang yang melintasi sejumlah ruas jalan protokol itu, sempat memacetkan arus lalu lintas di pusat kota Banda Aceh, seperti Bundaran Simpang Lima, Simpang Surabaya dan Simpang Jambo Tape. Konvoi juga menyedot perhatian warga. Usai berkonvoi, massa berkumpul di depan gedung DPRA dan menaikkan bendera bulan bintang ukuran raksasa di gedung dewan tersebut.
Bendera dinaikkan sekitar delapan orang. Mereka menarik sedikit demi sedikit bendera itu lalu memajangnya di atas atap gedung utama DPRA. Saat bendera dinaikkan, sontak ratusan orang yang hadir bertepuk tangan dan meneriakkan Allahu Akbar. Bendera terlihat menjuntai dari atap hingga menutupi beranda gedung utama DPR Aceh.
Sementara dari Meulaboh, Aceh Barat dilaporkan, puluhan warga memasang bendera merah putih di dalam kota tersebut, Minggu (31/1). Selain itu, warga juga melakukan konvoi keliling kota dengan membawa bendera merah putih.
Aksi pengibaran bendera merah putih ini sempat membuat kemacetan arus lalu lintas di kota Meulaboh selama 20 menit. “Ini bentuk kesadaran dan rasa cinta kami kepada NKRI,” kata Taufik, Koordinator Aksi.
Usai menaikkan bendera merah putih ukuran besar di Simpang Kisaran pada siang hari, puluhan warga Meulaboh kembali mengibarkan bendera itu pada malamnya sekitar pukul 23.00 Wib. Bendera merah putih berukuran 5 x 10 meter dikibarkan di Jembatan Lhun Nakye, Kelurahan Ujung Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan. (mhd/rfl/bei)
Selasa, 10 April 2012
Zaini Abdullah: Terima Kasih Aceh!
Selasa, April 10, 2012
Seuramoe Aceh Barat
BANDA ACEH, KOMPAS.com —Calon gubernur dari Partai Aceh (PA), Zaini Abdullah, menyampaikan ucapan terima kasih untuk seluruh rakyat Aceh. Ia menilai rakyat Aceh telah mendukung pasangan Zaini/Muzakir pada Pilkada 2012 sehingga memperoleh suara terbanyak berdasarkan penghitungan cepat (quick count).
"Ini membuktikan Partai Aceh mendapat hati dari rakyat. Saya juga berterima kasih kepada tim sukses dan tiga purnawirawan jenderal yang telah memberi dukungan siang dan malam tanpa lelah kepada kami," kata Zaini kepada wartawan dalam konferensi pers di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Senin (9/4/2012) sekitar pukul 20.45 WIB.
"Saya tidak menyangka hasil penghitungan suara begitu cepat. Saya berharap hasil quick count ini tidak bertentangan dengan yang akan dikeluarkan KIP Aceh nanti," imbuh Zaini didampingi Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud, Ketua Tim Pemenangan Zaini/Muzakir Kamaruddin Abubakar (Abu Razak).
"Inilah hasil yang kita capai. Soal siapa pemenang atau kalah, saya kira tak perlu dibicarakan lebih dalam. Karena, semua kandidat adalah pemenangnya," tuturnya dalam konferensi pers yang berlangsung sekitar 15 menit.
Zaini juga berterima kasih kepada 16 partai koalisi yang telah memberikan dukungan maksimal.
Sumber: http://regional.kompas.com/
"Ini membuktikan Partai Aceh mendapat hati dari rakyat. Saya juga berterima kasih kepada tim sukses dan tiga purnawirawan jenderal yang telah memberi dukungan siang dan malam tanpa lelah kepada kami," kata Zaini kepada wartawan dalam konferensi pers di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Senin (9/4/2012) sekitar pukul 20.45 WIB.
"Saya tidak menyangka hasil penghitungan suara begitu cepat. Saya berharap hasil quick count ini tidak bertentangan dengan yang akan dikeluarkan KIP Aceh nanti," imbuh Zaini didampingi Pemangku Wali Nanggroe Malik Mahmud, Ketua Tim Pemenangan Zaini/Muzakir Kamaruddin Abubakar (Abu Razak).
"Inilah hasil yang kita capai. Soal siapa pemenang atau kalah, saya kira tak perlu dibicarakan lebih dalam. Karena, semua kandidat adalah pemenangnya," tuturnya dalam konferensi pers yang berlangsung sekitar 15 menit.
Zaini juga berterima kasih kepada 16 partai koalisi yang telah memberikan dukungan maksimal.
Sumber: http://regional.kompas.com/







